Balada Capung II : rumah yang hangat...
Capung klimis... apa kabar dirimu?
Masih ingatkah aku, temanmu, sesama penunggu jendela dan pintu yang terbuka untuk kita?
Masihkah kau duduk di pojok sana, menunggu pintu dan jendela?
Atau jangan-jangan , kamu sedang mencariku?
Jangan cari aku disana teman, aku sudah tidak disitu lagi...
Iya,
tepat, benar sekali..
Akhirnya, aku menemukan sebuah pintu, sebuah rumah, yang terbuka lebar untukku, seakan-akan telah lama menunggu, untuk didatangi seorang dina sepertiku...
rumahnya terlihat bagus, asri, dari luar, bersahaja, dan saat ini, aku sedang berupaya untuk masuk ke dalam... melihat isi sesungguhnya..
Sepintas, isinya tampak, damai, tenang, ...penuh kasih, hangat, sebegitu hangatnya, sampai aku merinding, .... pantaskah aku diberi kehangatan seperti ini?....
Dan saat ini aku, langsung jatuh cinta luar biasa, dengan ketenangan dan kehangatannya...
Walaupun begitu, tidak tanpa cobaan, .. pemilik lamanya seakan terus menghantui aku ,orang-orang bodoh, picik, pengecut, yang tidak tahu arti dari tatakrama....
ditambah lagi, pagar ilalang pembatas rumah, yang seakan ketakutan , kalau aku akan datang dan mengambil rumahnya, tanpa minta ijin darinya...
Teman, doakan aku, agar rumah ini akan jadi persinggahan terakhir, karena aku telah lelah, mencari jawaban atas segala pertanyaanku, yang tak akan pernah putus...
Sudah dahulu suratku kali ini, aku akan kembali masuk ke dalam rumah, dan menikmati hangatnya perapian dengan api cinta..
Selamat malam teman, semoga kamu mimpi indah malam ini, sebagaimana aku, malam ini......

Recent Comments